Stress Melulu? Ini Obat Natural Untuk Meredakannya
Agen Poker - Faktor tekanan (stres) adalah hal yang kerap terjadi, terutama di kota-kota besar. Menurut survey pada 2017, Jakarta berada di peringkat 18 teratas kota paling stres dengan total skor mencapai 8 dari 10.
Maka dari itu, tidak heran jika berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk menghadapi stres. Salah satunya adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang dianggap sebagai comfort food.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memicu emotional eating yang jika tidak dikendalikan dapat meningkatkan asupan Gula Garam Lemak (GGL) yang mampu memicu penyakit.
Psikolog dari LightHOUSE yang kerap menangani kasus emotional eating, Tara de Thouars, mengungkapkan bahwa Emotional eating adalah kondisi di mana menggunakan makanan untuk penenang sebagai pelarian saat stres. Sebanyak 30% perempuan dan 24% laki-laki mengatasi stres dengan mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Emotional eating berasal dari dua aspek, yaitu secara fisik dan psikologis. Kalau secara fisik, ketika seseorang mengalami stres akan terjadi perubahan kimiawi di otak. Di mana terdapat 2 kimiawi yang mempunyai peranan besar dalam mengatur mood, yaitu dopamin dan serotonin. Dalam keadaan stres kadar keduanya akan menurun sehingga membuat mood tidak baik.
Sedangkan, kalau dilihat dari sisi psikologis, setiap manusia memiliki survival insting, di mana jika ada sesuatu yang tidak nyaman atau tidak seimbang di tubuh, dia akan berusaha untuk membuat itu menjadi seimbang lagi. Sehingga kalau seseorang sedang merasakan stres, otomatis akan langsung bergerak mencari sesuatu yang membuat emosi seimbang lagi. Sering kali makanan menjadi pilihannya.
Ada alasan lain yang membuat sesorang memilih makan sebagai obat stres, yaitu emosi dan logika tidak dapat berjalan secara bersama. Makan merupakan perilaku pengambilan keputusan, jadi kalau seseorang stres biasanya pengambilan keputusan makan cenderung tidak tepat. Misalnya menjadi memilih makan dengan porsi yang berlebihan, atau memilih menu makanan yang tidak sehat.
Berdasarkan data dari American Psychological Association, 38% orang dewasa mengaku bahwa saat mereka mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan karena munculnya stres, separuhnya merasa menyesal kemudian.
Emotional eating memiliki beberapa tanda yang bisa kita kenali, seperti secara tiba-tiba muncul keinginan makan makanan yang spesifik, atau cenderung makan lebih dari biasanya tapi setelahnya kita merasa bersalah.
“Ketika kita makan dalam kondisi yang sebenarnya sedang tidak lapar, tubuh kita sebenarnya sedang tidak membutuhkan kalori. Bila kondisi ini terus berulang, maka kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak dan dapat menyebabkan obesitas,” Ucap Manager LightHouse.
"Sedangkan obesitas sendiri berpotensi mengakibatkan berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, sakit sendi, dan penyakit empedu,” sambungnya.

Comments
Post a Comment